Rabu, 20 Oktober 2010





I. TUJUAN PERCOBAAN :
 Dapat menentukan berat molekul zat cair yang mudah menguap melalui penerapan hukum gas ideal

II. PERINCIAN KERJA
 Penentuan volume labu
 Penentuan berat molekul 1,1,1 Tri Chloro Etana

III. ALAT YANG DIPAKAI :
 Gelas kimia 1000 ml dan 600 ml 1+1 buah
 Buret 50 ml 1 buah
 Labu Alas bulat leher 2 ml 1 buah
 Neraca analitik 1 buah
 Pipet ukur 5 ml 2 buah
 Klem dan statif 1+1 buah
 Termometer Asa 1 buah
 Termometer 1 buah
 Pemanas listrik bentuk spiral 1 buah
 Penangas air 1 buah
 Selang karet 1 buah

IV. BAHAN YANG DIGUNAKAN :
 1,1,1 Tri Chloro Etana
 Air
 Alumunium Foil
V. DASAR TEORI :
Salah satu penerapan hukum gas ideal didalam percobaan adalah menentukan berat molekul gas dan uap. Untuk menentukan berat molekul untuk gas atau uap, perlu diketahui. Berat gas tersebut pada suhu dan tekanan yang diketahui. Bila gas tersebut memenuhi persamaan gas ideal, maka berlaku :
P•V = n•R•T .................................... (1)
 P adalah tekanan atmosfer,
 V adalah volume dalam liter,
 T adalah suhu dalam Kelvin,
 n adalah jumlah mol gas,
 R adalah tetapan ( 0,0821 L•Atm/Mol•K )
Jumlah mol n sama dengan berat (g) dibagi dengan berat molekul (BM)

Dengan mensubtitusikan ke dalam persamaan (1), maka diperoleh :

..................................... (2)
Percobaan yang dilakukan disini mencakup juga penentuan berat molekul zat cair yang mudah menguap. Sejumlah zatcair dimasukkan ke dalam labu. Kemudian labu dimasukkan ke dalam air yang mendidih, sehingga zat cair akan menguap sempurna, mencorong udara yang berada dalam labu, sehingga seluruh isi labu terisis uap pada tekanan barometer dan suhu pada titik air. Bila labu didinginkan dan uap mengembun, maka dapat ditentukan berat dari uap, sehingga BM dapat dihitung


VI. PROSEDUR KERJA :
 Mentukan volume labu
 Dimasukkan air ke dalam labu dengan menggunakan buret 50 ml sampai batas leher labu,
 Dicatat banyaknya volume air yang keluar dari buret,
 Volume Air = Volume Labu.
 Labu dikeringkan untuk digunakan pada percobaan menentukan berat molekul 1,1,1 Tri Chloro Etana.

 Penentuan Berat Molekul 1,1,1 Tri Chloro Etana volume labu
 Ditimbang labu kosong (labu harus benar-benar kering),
 Diisi labu dengan 5 ml 1,1,1 Tri Chloro Etana,
 Dipasang peralatan seperti gambar berikut :








 Dipanaskan air dengan pemanas air sampai mendidih, (diatur suhu pemanasan dengan menggunakan termostat),
 Pada bagian mulut labu alas bulat ditutup dengan kertas Alumunium Foil dan dilubagi tengahnya dengan menggunakan peniti,
 Dimasukkan labu alas bulat yang telah dilengkapi dengan termostat sampai ujung leher labu tercelup di air,
 Diuapkan zat cair sampai seluruhnya habis dan tidak ada lagi uap yang keluar,
 Diteruskan pendidihan air selama 5 sampai 8 menit,
 Diukur suhu air yang mendidih dan tekan atmosfer pada saat itu,
 Labu alas bulat dimasukkan ke dalam gelas kimia 1000 ml yang telah diisi air, ditunggu sampai dingin, lalu ditimbang

VII. DATA PENGAMATAN :
Hasil Percobaan I
Berat labu 172,6534 gram
Berat labu + Kondensat 173,0034 gram
Suhu didih air 92°C
Tekanan barometer 746 mm Hg
Volume labu 329,5 ml
Suhu uap 82°C
Tekanan uap 0,981 atm
Volume uap (L) 0,3925L
Suhu uap (K) 355°K
Berat uap 0,3505 gram
Berat molekul 32,58 gr/mol




VIII. PERHITUNGAN :

 Tekanan uap [ Perc I ]

 Volume uap dalam Liter [ Perc I ]
1 L = 1.000 ml

 Suhu uap dalam Kelvin [ Perc I ]
273°K = 1°C

 Berat Uap [ Perc I ]
Berat labu + Kondensat  Berat labu
= 173,0034 gr  172,6534 gr
= 0,3505 gram
 Berat Molekul [ Perc I ]


BM = 31,58 gr/mol



IX. PEMBAHASAN :
 Dalam praktikum yang dilakukan terdapat sedikit perbedaan antara percobaan I dengan percobaan II, hal ini disebabkan ketika dilakukan pemanasan terdapat perbedaan suhu dimana suhu pertama lebih besar 2°C dibandingkan suhu ke II.

X. KESIMPULAN :
 Dari data pengamatan yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa berat molekul untuk 1,1,1 Tri Chloro Etana adalah ( 31,58 + 31,24 ) : 2 = 31,41 gr/mol.

XI. PERTANYAAN :
 Seorang siswa menimbang labu dan memperoleh beratnya 55,441 gr, ia memasukkan kedalam labu sebanyak 5 ml suatu zat cair yang tidak diketahui, lalu memanaskan labu dalam penangas air pada suhu 100°C. Setelah zat cair menguap, labu dikeluarkan dari penangas dan ditutup. Labu kemudian didinginkan sampai uap zat cair mengembun. Tutup dibuka, kemudian labu ditimbang dan diperoleh berat 56,039 gram. Volume labu = 215,8 ml. Tekanan barometer = 752 mmHg.
 Berapakah tekanan dari uap didalam labu dalam satuan atm ?
 1 Atm = 760 mmHg , jadi


 Berapakah suhu uap dalam Kelvin ?
 273°K = 1°C






 Berapakah volume labu dalam Liter ?
 1L = 1.000 ml


 Berapakah berat uap yang ada dalam labu ?
 Berat uap dalam labu = ( Berat Labu + Sampel )  ( Berat Labu )
= 56,039 gr  55,441 gr
= 0,598 gram

 Berapakah berat 1 mol uap ?
 Berat 1 mol = 0,598 gram/mol

 Berapakah berat molekul zat cair yang tidak diketahui ?


BM = 85,76 gr/mol

 Bagaimanakah pengaruh kesalahan-kesalahan berikut terhadap hasil percobaan ? diberikan alasan !
 Tidak semua zat cair menguap ketika labu dikeluarkan dari penangas air.
 Maka akan terjadi kesalahan pada berat zat yang menguap, dimana akan berpengaruh pada penghitungan berat molekul.







 Labu tidak benar-benar dikeringkan ketika anda akan menimbang kondensat di dalam labu tersebut.
 Maka akan terjadi pertambahan bobot pada labu sehingga akan mempengaruhi hasil perhitungan beratnya.

 Labu dibiarkan terbuka ketika sedang didinginkan.
 Akan terjadi pengurangan berat disebabkan adanya uap yang keluar dari dalam labu sehingga mengurangi bobot labu tersebut.

 Labu dikeluarkan dari penangas air sebelum mencapai suhu didih air.
 Maka akan terjadi penambahan berat disebabkan karena seluruh air belum berubah menjadi uap sehingga akan menambah beratnya.

XII. DAFTAR PUSTAKA :
 Emil j. Slowinsky, Wayne wolsey, William L. Masterton, Chemical principle in the laboratory with qualitatives analisis, Japan, Holt-saunders Int.ed.
Judul : Titik Leleh dan Titik Nyala

1. Tujuan :
- Setelah melakukan percobaan ini, kita dapat menetapkan besarnya titik leleh suatu zat padat dengan alat penentu titik leleh.
- Setelah melakukan percobaan ini, kita dapat menetapkan besarnya titik nyala suatu zat cair dengan alat penentu titik nyala.
2. Perincian Kerja :
- Menentukan titik leleh Asam Benzoat
- Menentukan titik leleh Asam Oksalat
- Menentukan titik nyala solar
3. Alat dan Bahan :
 Untuk penentuan titik leleh :
- Pipa Kapiler 2 Buah
- Kaca Arloji 2 Buah
- Digital Melting Point Apparatus 1 Buah
- Pinset 1 Buah
- Spatula 1 Buah
- Lumpang 1 Buah
- Asam Oksalat
- Asam Benzoat
 Untuk Penentuan titik Nyala :
- Gelas Kimia 100 ml 1 Buah
- Selang regulator 1 Buah
- Mortar 1 Buah
- Flash Point Testers + termometer 1+1 Buah
- Solar




4. Dasar Teori :
Titik leleh dari senyawa murni adalah temperatur senyawa padat dan cair berada keadaan kesetimbangan pada tekanan 1 atm. Pada senyawa-senyawa dengan berat molekul hampir sama, senyawa lebih polar dan struktur molekulnya lebih simetris mempunyai titik leleh yang lebih tinggi. Titik leleh senyawa murni ditentukan dengan pengamatan temperatur saat terjadi perubahan padatan menjadi cairan. Sejumlah kecil zat padat diletakkan dalam tabung kapiler gelas dan dipanaskan merata. Pertama diamati temperatur saat mulai terbentuk cairan, kemudian temperatur saat padatan telah berubah menjadi cairan semua. Titik leleh yang berada pada literatur biasanya dalam bentuk range titik leleh. Sampel senyawa murni biasanya hanya terdiri atas satu bentuk kristal dan meleleh pada temperatur dengan range kurang dari 10 C. Besarnya daerah titik leleh atau range lebih dari 20 C menunjukkan adanya pengotor. Campuran zat padat pada umumnya, menunjukkan daerah titik leleh yang lebar.

















5. Cara Kerja :
 Untuk Penentuan Titik Leleh :
- Menggerus bahan atau sampel yang telah diketahui titik didihnya sebelumnya, kemudian diletakkan dikaca arloji.
- Memasukkan sampel kedalam pipa kapiler, kemudian memadatkannya dengan cara menjatuh-jatuhkan pipa kapiler tersebut didalam pipa atau semacamnya yang lebih besar.
- Meletakkan pipa kapiler pada bagian pemanasan pada alat penentu titik leleh.
- Menyalakan pemanas alat penentu titik leleh.
- Mengatur pemanasan dengan mengatur tombol coarse temperature control serta fine temperatur control, sesuai dengan kartu petunjuk yang ada pada bagian alas.
- Mengamati sampel yang diselidiki, menekan tombol display pada saat sampel meleleh.
- Membaca suhu atau titik leleh yang tertera pada alat.
 Untuk Penentuan Titik Nyala :
- Membersihkan alat yang akan dipakai untuk menghilangkan sisa-sisa minyak atau solvent.
- Mengisi bejana logam dengan zat yang akan ditentukan titik nyalanya sampai dengan tanda batas, kemudian menutup kembali bejana tersebut dengan penutupnya, lalu memasang stirer.
- Memasang kabel penyambung arus dan menghubungkan selang gas pembakar.
- Menyalakan gas pembakar, kemudian mengatur nyala apinya.
- Menyalakan pemanas listriknya.
- Melakukan test nyala yaitu dengan memutar tombol pembakar sehingga api gas masuk kedalam bagian atas bejana logam yang berisi zat yang sedang ditest, kemudian setiap kenaikan 10 C melakukan test nyala. Melakukan test nyala terus menerus sampai terjadi percikan api.
- Membaca suhu atau titik nyala yang tertera pada alat.
6. Data Pengamatan :
 Penentuan Titik Leleh :
- Asam Benzoat :
Secara teoritis : 1010 C
Pengamatan : 101,50 C
- Asam Oksalat :
Secara Teoritis : 1210 C – 1230 C
Pengamatan : 127,20 C
 Penentuan Titik Nyala :
- Titik Nyala Solar :
Secara Teoritis : minimal 510 C
Pengamatan I : 1190 C
Pengamatan II : 1080 C
7. Pembahasan :
Dalam melakukan percobaan ini yaitu penentuan titik leleh dan titik nyala suatu zat. Terutama pada penentuan titik nyala terdapat perbedaan yang cukup jauh antara pengamatan dengan teoritis. Diperkirakan titik leleh sampel yang diukur mengalami perubahan titik leleh disebabkan bahan yang dipakai sudah terlalu sering digunakan atau dengan kata lain tidak steril lagi akibat terlalu sering berada diruang terbuka.
Pada penentuan titik nyala perbedaan yang diperoleh sangat jauh ini diperkirakan karena terdapat kesalahan pada saat penentaun titik nyala. Dimana pada saat melakukan test nyala yaitu saat memutar tombol pembakar terlalu sering dilakukan tidak sesuai dengan petunjuk, belum cukup kenaikan 10 C tombol pembakar sudah diputar dan dilakukan berulang-ulang.
8. Jawaban Pertanyaan :
1. Titik leleh : Temperatur minimal yang dimiliki oleh suatu bahan untuk berubah dari fase padat menjadi cair.
Titik Nyala : Temperatur maksimal yang dimiliki suatu bahan untuk menghasilkan uap atau gelembung yang dapat menyebabkan timbulnya percikan atau nyala api.
2. Kita perlu mengetahui besarnya titik leleh dan titik nyala suatu zat agar kita dapat mengetahui sifat zat itu, sehingga mempermudah kita dalam melakukan penelitian terhadap suatu zat. Dalam melakukan penelitian kita dapat mengetahui batas pemanasan yang harus kita berikan agar nantinya zat tersebut tidak meleleh ataupun menyala yang dapat menimbulkan kecelakaan.
9. Kesimpulan :
Setelah melakukan percobaan ini maka kami dapat menyimpulkan bahwa:
- Titik leleh Asam Oksalat menurut pengamatan adalah 101,50 C
- Titik Leleh Asam Benzoat menurut pengamatan adalah 127,20 C
- Titik Nyala Solar menurut pengamatan berkisar antara 1080 C – 1190 C
10. Saran :
- Bahan yang akan dimasukkan kedalam pipa kapiler sebaiknya digerus dahulu agar ukurannya rata.
- Setelah memasukkan zat kedalam bejana logam, bibir bejana sebaiknya dilap untuk membersikan percikan dari bahan tersebut melekat pada bibir bejana.
- Jangan terlalu sering memutar tombol pembakar, tunggu setiap kenaikan 10 C agar gas dari zat berkumpul terlebih dahulu diatas permukaan zat.
- Hati- hati dalam melakukan percobaan penentuan titik nyala.
11. Daftar Pustaka :
- Petunjuk pemakaian alat penentu titik leleh (Digital Melting Point Apparatus) dan titik nyala (Flash Point Testers)
- Petunjuk Praktikum Kimia Umum untuk mahasiswa Politeknik jurusan Teknik kimia.
I. TUJUAN PERCOBAAN
 Menunjukan bahwa titik didih air bergantung pada tekanan (P)
 dapat mencatat data temperatur dan sesuai dengan tekanan sistim sesuai dengan kurva titik didih air.

II. ALAT YANG DIPAKAI

 Labu alas bulat dan termometer
 Manometer bejana U
 Klem dan statif
 Oil bath dan Heater
 Gelas ukur 500 ml
 Selang silikon
 Penjepit selang


III. BAHAN YANG DIPERGUNAKAN
 Air

IV. DASAR TEORI
Air dalam suatu wadah yang tertutup dimana sedang mendidih akan menghasilkan banyak gelembung besar yang terbentuk dalam wadah dan muncul kepermukaan. Ketika gelembung itu terbentuk larutan yang semula menenpati ruang menyemak dan permukaan cairan didalam wadah dipaksa untuk naik melawan tekanan dari bawah yang ditimbulkan oleh atmosfer. Hal ini hanya terjadi apabila tekanan uap dari cairan sudah sama dengan tekanan atmosfer yang ada saat itu. Jika tekanan uap lebih kecil, tekanan atmosfer akan membuyarkan gelembung. Suhu pada saat cairan mendidih disebut titik didih, dimana suhu pada saat tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer.
Dalam pembahasan diatas, jelas bahwa titik didih cairan tergantung pada tekanan atmosfer saat itu, semakin tinggi tekanan atmosfer maka semakin tinggi suhu yang harus diberikan untuk menyamai tekanan uap. Titik didih cairan pada 1 atm dirujuk sebagai titik didih normal. Untuk air titik didihnya 100C. Pada tekanan yang lebih tinggi, titik didihnya pun lebih tinggi, pada tekanan yang rendah (dipuncak gunung), titik didihnya lebih rendah pula.
Kemampuan cairan untuk mendidih dengan mempertahankan suhu menjadi jelas apabila kita memasak makanan dengan menggunakan air. bila air telah mendidih, suhunya akan tetap konstan, sepanjang air masih berada disekitar makanan, kita tidak perlu khawatir makanan akan menjadi gosong. Kenyataan ini membuktikan bahwa titk didih akan mengalami perubahan apabila terjadi perubahan tekanan.
Beberapa senyawa berhidrogen dari unsur dalam golongan IVA, VA, VIA, dan VIIA, mari kita lihat senyawa dari golongan IVA dulu, sebab mereka membentuk pola yang hampir ideal. H2O, NH4, dan HF menunjukkan titik didih yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang kita ramalkan, jika hanya gaya london yang ada diantara sesama molekulnya. Ramalan itu didapat dengan mengekstrapolasi kecenderungan diantara unsur yang lebih berat dalam golongan yang bersangkutan. sekali lagi, kita melihat pengaruh ikatan hidrogen, yang ada diantara molekul H2O, NH2 dan HF, tetapi tidak ada dalam senyawa berhidrogen lainnya dari unsur non logam.
Barangkali Anda telah memperhatikan bahwa air menunjukkan titik didih lebih tinggi dari pada hidrogen fluorida, sekalipun HF lebih polar dibandingkan H2O. Tampaknya ini bermula dari banyaknya ikatan hidrogen yang dapat dibentuk. Dalam HF, setiap molekul berikatan hidrogen dengan dua molekul lainnya, sedangkan dalam air, setiap molekul dapat berikatan dengan empat lainnya, walaupun HF membentuk ikatan hidrogen yang sedikit lebih kuat dari pada air, kekuatan total empat ikatan hidrogen pada molekul air melampaui kekuatan total dua ikatan hidrogen pada molekul HF.
Ikatan hidrogen dalam NH3 jauh lebih kuat dibandingkan dalam H2O atau HF sebab elektronegativitas nitrogen jauh lebih rendah. Selain itu, nitrogen dalam NH3 hanya mempunyai satu pasangan (elektron) menyendiri yang dapat membentuk ikatan hidrogen, sehingga setiap molekul rata-rata hanya dapat memegang dua ikatan hidrogen satu dari molekul NH3 lain, dan satu kemolekul NH3 lain. Karena itu kekuatan total ikatan hidrogen dalam NH3 begitu kecil sehingga NH3 mempunyai titik didih lebih rendah dibandingkan HF atau H2O.

V. PROSEDUR PENGERJAAN
 Dipasang peralatan seperti gambar berikut :


 Selang silikonnya dibiarkan terbuka, dan dipanaskan didalam oil bath dengan menggunakan heater sampai suhu mendekati 100C lalu heater dimatikan
 Lalu dijepit dengan penjepit dan selang silikonnya dihubungkan dengan manometer
 Lalu labu dilepas dan didudukan pada alas labu didalam baskom dan disiramkan air sampai suhu 93C,
 Setelah suhu 90C, pencepit dibuka, dan tekanan dibaca didalam manometer, bersamaan dengan diset waktu selama 10 menit,
 Setelah 10 menit, maka dilakukan lagi pembacaan pada manometer, hal ini dilakukan sampai suhu 51C.
VI. DATA PENGAMATAN
Waktu (menit) Suhu (C) Dp ( mmHg ) P absolut ( mmHg )
start 90C 78,5 – 38,0 = 40,5 760 + 40,5 = 800,5
10 menit 84C 81,4 – 43,2 = 38,2 760 + 38,2 = 798,2
10 menit 77C 84,0 – 48,2 = 35,8 760 + 35,8 = 795,8
10 menit 68C 87,9 – 56,9 = 31,0 760 + 31,0 = 791,0
10 menit 61C 92,0 – 64,7 = 27,3 760 + 27,3 = 787,3
10 menit 51C 96,1 – 70,2 = 25,9 760 + 25,9 = 785,9

VII. PERHITUNGAN
 Untuk mencari perubahan panas
Q = V . c . T .
Dik : V = 500 ml Kg
c = 4,1868 ( tetapan panas spesifik air)
T = (T0 – T5) ; (90C – 51C) = 39C
s = 50 menit

Dit : Q = .......... ? KJ/s
V = 500 ml = 0,5 L
V = L . 
= 0,5 L . 0,99504 L/Kg
= 0,498 Kg

Q = 0,498 Kg . 4,1868 . 39C .
Q = 97,58 KJ/s

 Untuk mencari Koefisien Transfer Panas Keseluruhan


Keliling bola = 2 r
41,5 cm = 2 . 3,14 . r
41,5 cm = 6,28 r
= 6,6083 cm
Luas Bola =
= = 182,36 cm3

Keliling Slinder = 2 r
13,3 cm = 2 . 3,14 . r
13,3 cm = 6,28 r
= 2,118 cm

Luas Slinder I = 2  . r . h
= 2 . 3,14 . 2,118 cm . 4,2 cm = 55,86 cm3

Keliling Slinder = 2 r
10,2 cm = 2 . 3,14 . r
10,2 cm = 6,28 r
= 1,624 cm
Luas Slinder II = 2  . r . h
= 2 . 3,14 . 1,624 cm . 1,8 cm = 18,36 cm3
A = Luas Bola + Luas Slinder I + Luas Slinder II
= 182,36 cm3 + 55,86 cm3 + 18,36 cm3
= 256,58 cm3


T1 = T1 – T udara
= 90C - 31C
= 59C
T2 = T2 – T udara
= 51C - 31C
= 20C



= 36,04C




= 0,011 KJ/cm3C

VIII. PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN
 Pada saat dilakukan pendinginan labu dengan cara menyirami permukaan labu dengan air terdapat gelembung-gelembung air yang seakan-akan mendidih, dimana hal ini terjadi karena adanya kesamaan antara tekanan uap dengan suhu pada saat itu dimana apabila kita meningkatkan laju kalor pada air permukaan labu akan memicu terjadinya gelembung gas lebih cepat.









X. KESIMPULAN
 Titik didih adalah merupakan suhu dimana suatu cairan dalam keadaan mendidih
 Titik didih suatu cairan dipengaruhi oleh tekanan yang mana apabila tekanan suatu cairan pada suatu tempat meningkat, maka secara otomatis titik didihnya pun ikut meningkat, dan apabila tekanan disekitarnya mengalami penurunan maka titik didih suatu cairan akan menurun.

X. DAFTAR PUSTAKA
 Buku penuntun praktikum DPK, disadur dari PEDC BANDUNG.
PRAKTIKUM KIMIA DASAR

Judul praktikum : Penentuan Berat Jenis
Tujuan Percobaan :  Menentukan berat jenis larutan dengan piknometer dan aerometer.
 Menentukan berat jenis padatan dengan piknometer.
 Mengenal faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berat jenis.
Bahan yang digunakan :  Ethanol 95 %
 Pasir Kwarsa
 Aquadest
 Es (sebagai pendingin)
Alat yang dipakai :  Piknometer 25 Ml
 Aerometer 600 – 800
 Gelas Kimia 250 Ml
 Gelas Ukur 250 Ml
 Thermometer 0 - 100C
 Timbangan Analitik
 Spatula
Dasar Teori : Berat jenis didefinisikan sebagai massa suatu baahn per saruan volume dari bahan tersebut.

satuan dari berat jenis adalah Kg/dm3 atau g/cm+3 atau g/ml
Berat jenis mempunyai harga konstan pada suatu temperatur tertentu dan tidak bergantung pada jumlah bahan cuplikan (sampel).
Dikenal beberapa alat yang digunakan untuk menentukan berat jenis, yaitu aerometer, piknometer, neraca whestpheal. Untuk pekerjaan secara rutin dalam suatu laboratorium terdaapt peralatan elektronik untuk menentukan berat jenis.
Penentuan berat jenis dengan aerometer berdasarkan pada prinsip archimedes. Setiap benda yang dicelupkan kedalam suatu cairan, akan mengalami gaya angkat yang besarnya sama dengan zat cair yang dipindahkan, karena adanya benda tersebut.
Semakin kecil berat jenis caira, aerometer akan tercelup semakin dalam.

Prosedur kerja :  Penentuan berat jenis dengan menggunakan Piknometer
Penentuan volume piknometer
 Timbang piknometer kosong, bersih dan kering (A gram),
 Isi piknometer dengan aquadest sampai penuh, lalu turunkan suhunya sampai 18 C (masukkan kedalam tumpukan es). Setelah itu keringkan dengan menggunakan tissue,
 Lalu timbang pada saat suhunya mencapai 20C (B gram),
 Hitung berat aquadest pada saat 20C .

Penentuan berat jenis zat cair dengan piknometer
 Timbang piknometer 25 Ml kosong, bersih, kering (C gram),
 Isi piknometer dengan zat cair pada suhu 18C,
 Lalu timbang pada suhu 20C (D gram),
 Hitung berat zat cair tersebut.










Penentuan berat jenis zat padat dengan piknometer
 Timbang piknometer 25 Ml kosong, bersih, kering (E gram),
 Isi piknometer dengan zat padat sampai separuh volum piknometer, lalu timbang (F gram),
 Lalu tambahkan aquadest kedalam piknometer yang telah diketahui BJnya pada suhu 20C, lalu ditimbang (G gram)
 Hitung berat jenis zat padat tersebut.

 Penentuan berat jenis dengan menggunakan Aerometer
 Masukkan ethanol kedalam gelas ukur 250 Ml kemudian masukkan aerometer secara perlahan kedalam ethanol tersebut.
 Tenangkan sebentar, lalu lihat skalanya, pada skala berapa batas miniskus atas ethanol itu berada.
 Catat hasilnya sebagai berat jenis ethanol tersebut.

Data pengamatan :  Penentuan volume piknometer
 Berat piknometer kosong = 31,633 gram
 B. Piknometer + H2O ( 20C) = 55,94 gram
 Berat air ( 20C) = 24,31 gram
 Volume piknometer = = 24,3538 gram
 Penentuan BJ zat cair dengan piknometer
 Berat piknometer kosong = 31,633 gram
 B. Pikno + C2H5OH ( 20C) = 51,039 gram
 Berat air ( 20C) = 51,039 – 31,63 =19,409 gr
 Berat jenis zat cair ( 20C) =


 Penentuan BJ padatan dengan piknometer
 Berat piknometer kosong = 31,633 gram
 Berat piknometer + P. kwarsa = 40,0103 gram
 Berat piknometer + pasir + air = 61,1209 gram
 Berat pasir kwarsa = 40,0103 – 31,63 = 8,3803 gr
 Berat zat cair = 61,12 – 40,01 = 21,11 gram
 Volume zat cair =
 Volume zat padat = 24,3538 – 20,112 = 4,241 ml
 Berat jenis zat padat = 1,9758 gram
 Penentuan BJ ethanol dengan Aerometer
 Berat jenis ethanol = 800
Perhitungan :  Volume piknometer kosong

 Berat jenis zat cair

 Berat jenis zat padat

Pembahasan :  Penentuan BJ dengan piknometer
 Untuk zat yang berbentuk liquid, kita dapat mengetahui dengan cara melakukan penimbangan bobot piknometer yang berisi sampel dikurangi dengan piknometer kosong tersebut, setelah itu dimasukkan kedalam rumus
 Sedangkan untuk padatan, terlebih dahulu kita cari volume padatan dengan cara melakukan pengurangan volume zat padat yang diberi air dengan zat cair tersebut apabila mengisi ruang piknometer.
 Penentuannya dengan cara melihat langsung pada garis skalanya, pada skala berapa aerometer mengenai batas miniskus atas cairan ethanol.

Kesimpulan : 
 BJ dipengaruhi oleh suhu dan komposisinya.
 Piknometer dapat digunakan untuk zat berbentuk liquid maupun solid, sedangkan aerometer hanya dapat digunakan untuk zat yang berbentuk liduid saja.
 Pengukuran BJ untuk cairan lebih praktis bila menggunakan aerometer, karena langsung membaca skalanya saja.

Pertanyaan : Mengapa pada penentuan BJ suatu padantan dengan menggunakan Piknometer harus ditambahkan zat cair yang telah diketahui Berat jenisnya ?
 Karena untuk mengetahui volume padatan yang akan kita cari Bjnya.

Daftar pustaka :  Jhon Willey & sons, Laboratory eksperiments for chemistry and the living organisme, 3th, Molly bloomfield.
 Emil j. Slowinsky, Wayne wolsey, William L. Masterton, Chemical principle in the laboratory with qualitatives analisis, Japan, Holt-saunders Int.ed.
 Laborpraxis, 2 Messmethoden, Brikhaeuser.
Makassar, 12 Oktober 2003
H U K U M K E L I P A T A N P E R B A N D I N G A N

I. TUJUAN
 Dapat melakukan langkah-langkah percobaan dengan benar
 Dapat menuliskan reaksi yang terjadi pada tiap langkah percobaan
 Dapat menghitung hasil percobaan yang telah dilakukan

II. PERINCIAN KERJA
 Menyiapkan peralatan dan zat yang akan digunakan
 Melakukan pemanasan sampel
 Melakukan penimbangan hasil yang diperoleh

III. ALAT YANG DIPAKAI
 Pemanas busen
 Tabung reaksi besar 2 buah
 Statif dan klem
 Timbangan
 Spatula
 Sarung tangan
 Pengaduk kaca
 Pipet volume 10 ml
 Kacamata

IV. BAHAN YANG DIGUNAKAN
 Tembaga klorida
 Larutan HNO3 70%
 HCL 6M
 Logam Zn
V. DASAR TEORI
Beberapa unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa dengan oksigen atau unsur bukan logam lain. Sebagai contoh besi membentuk tiga oksida dengan rumus FeO ; Fe2O3 dan Fe2. Oksida ini seperti senyawa biner berisi dua unsur yang sama, dapat digunakan untuk mengilustrasikan hukum kelipatan perbandingan jika kita mulai dengan 1 mol Fe : banyaknya mol yang bergabung dengan jumlah besi berurutan 1, 3/2, dan 4/2. semua bilangan ini merupakan fraksi sederhana seperti diperoleh hukum. Oleh analisa suatu zat senyawa seperti oksida besi, kita dapat menemukan rumus dan cek validitas dari hukum kelipatan perbandingan. Dalam eksperimen ini, kita akan mempelajari beberapa senyawa biner yang berisi tembaga dan clorida. Kita akan diberi suatu sampel yaitu senyawa 1 (tembaga klorida).
Pada pemanasan sampel A akan terurai menjadi senyawa tembaga klorida yang lain (senyawa 2), yang membebaskan klorida (CL2).

Reaksi yang terjadi dapat dikemukakan sebagai berikut :
CuCl x panaskan CuCl y + Cl2
1 2
Kita akan merubah senyawa 2 menjadi tembaga oksida (senyawa 3) dengan perlakuan asam nitrat yang kemudian dipanaskan.

Reaksi yang terjadi seperti pada persamaan berikut :
CuCl y + O2 CuO + Cl2
Tembaga oksida kemudian direduksi menjadi tembaga oleh pemanasan dengan adanya gas alam. Dengan penimbangan sampel pada akhir sebuah step dalam deret reaksi ini, kita dapat menentukan massa dari senyawa 1, 2 dan 3 bersama massa tembaga yang ada. Dari data ini, dan massa atom tembaga klorida dan oksigen, kita dapat menemukan rumus dari dua klorida dan oksida dan menentukan hukum kelipatan perbandingan menggunakan senyawa tembaga klorida.
VI. PROSEDUR PERCOBAAN
 Ditimbang tabung reaksi kosong, dimasukkan kira-kira 1 gram tembaga klorida (sampel) kedalam tabung reaksi dan ditimbang lagi
 Dipasang tabung reaksi pada statif
 Dipanaskan sampel klorida, mula-mula pelan, kemudian agar kuat dengan nyala busen. Sampel yang terurai dan gas klorida yang dibebaskan, diserap dalam larutan
 Pemanasan dilanjutkan sampai CL2 tidak dihasilkan lagi, tetapi pemanasan jangan sampai tabung reaksi menjadi merah, sebab pada suhu tinggi hasil dari peruraian awal akan terurai menjadi logam tembaga
 Tabung reaksi didinginkan dan dilepaskan dari statif, jika ada sedikit klorida yang mengembun menempel pada dinding tabung, usirlah dengan pemanasan pelan-pelan pada bagian atas, setelah dingin ditimbang kembali
 Ditambahkan 2 ml larutan HNO3 70 % pada tabung reaksi dan menyusun alat seperti semula
 Dipanaskan tabung reaksi dengan pelan-pelan, baru dilanjutkan dengan kuat untuk beberapa menit, untuk menghasilkan tembaga oksida yang berwarna hitam
 Ditimbang kembali tabung reaksi yang berisi senyawa tadi, jika sudah dingin
 Setelah ditimbang, memasukkan 0,5 – 1 gram logam Zn
 Ditambahkan 1 ml HCL pekat dan 6 ml HCL 6M kedalam sampel
 Diaduk pelan-pelan dengan batang pengaduk. (pengadukan ini akan menyebabkan logam Zn cepat hancur/habis, bereaksi dengan HCL, sehingga mencegah terlapisnya Zn oleh logam cu yang terbentuk).
 Jika semua logam Zn telah bereaksi, dan cuO sudah direduksi menjadi cu, maka memisahkan larutan yang jernih yang terbentuk. Mencuci logam cu yang didapat dan mengeringkan dengan api burner
 Setelah semua air habis menguap, maka mendinginkan tabung, dan setelah dingin ditimbang kembali.

VII. DATA PENGAMATAN
 Berat tabung reaksi kosong (1) = 30,17 gram ( n )
 Berat tabung reaksi + tembaga klorida = 31,18 gram
 Berat tabung reaksi kosong (2) = 29,72 gram ( i )
 Berat tabung reaksi + Zn = 30,394 gram ( Zn = 0,57 )
 Berat tabung reaksi + CuO2 = 30,60 gram ( t )
 Berat tabung reaksi + tembaga klorida = 31,18 gram ( Y )
 Berat tabung reaksi + tembaga = 30,19 gram ( M )
 Berat CuCl2 = 1,01 gram ( L )
 Berat Cu = 0,2 gram ( P )
Jadi Berat CuCl2 : Y – n (1) = 31,18 gr – 30,17 gr = 1,01 gram
Jadi Berat CuCl2 : Y – I (2) = 31,18 gr – 29,72 gr = 1,46 gram
Jadi Berat Cl2 : Y – M (1) = 31,18 gr – 30,19 gr = 0,99 gram
Jadi Berat Cl2 : L – P (2) = 1,01 gr – 0,2 gr = 0,81 gram
Jadi Berat CuO2 : t – n = 30,60 gr – 30,17 gr = 0,43 gram

VIII. PERHITUNGAN
 Menghitung jumlah Cu dan Cl yang ada dalam sampel.
Tembaga Clorida (1) dan Tembaga Clorida (2)
Senyawa 1 : 0,2 gr Cu = 1,01 gr – 0,2 gr
= 0,81 gr Chlor
Senyawa 2 : 0,2 gr Cu = 1,46 gr – 0,2 gr
= 1,26 gr Chlor

 Dari hasil Chlor diatas yang bergabung dengan 1 mol Cu dalam senyawa 1 dan 2
Senyawa 1 : 63,54 gr mol-1 Cu = 63,54 x
Senyawa 2 : 63,54 gr mol-1 Cu = 63,54 x
 Dari hasil diatas, menghitung mol chlor yang bergabung dengan 1 mol Cu dalam 2 senyawa tembaga clorida
Senyawa 1 : 1 mol Cu =
Senyawa 2 : 1 mol Cu =

 Rumus sederhana :
Senyawa 1 : CuCl7,3 disederhanakan menjadi CuCl9
Senyawa 2 : CuCl11,3 disederhanakan menjadi CuCl12

 Hubungan Hukum Kelipatan Perbandingan untuk hasil diatas
CuCl5 panaskan CuCl3 + Cl2 (g)
CuCl5 (s) panaskan CuCl3 + Cl2 (g)

 Rumus tembaga oksida yang dibuat dengan menggunakan cara yang sama seperti menentukan rumus senyawa 1 dan 2 pada pembahasan diatas.
 Jumlah Cu dan O yang ada dalam sampel
Cu : 0,2 gram
O : 0,43 gr – 0,2 gr = 0,23 gram
 Banyaknya O yang bergabung dalam mol Cu
Cu : 63,54 gr mol-1
O :
 Jumlah mol O yang bergabung dengan 1 mol Cu dalam 2 senyawa CuO2
Cu : 1 mol
O :
 Rumus sederhana senyawa C : CuO5
 Hubungan kelipatan perbandingan
CuCl3 (s) + O2 (g) CuO5 + Cl2 (g)
CuCl3 (s) + O (g) CuO5 + Cl2 (g)

IX. PEMBAHASAN
Dalam percobaan ini, kita akan membuktikan adanya hubungan kelipatan perbandingan dengan menentukan rumus sederhana suatu senyawa, misalnya tembaga klorida dan tembaga oksida. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam percobaan ini yaitu pada saat pemanasan dan pencampuran bahan dengan larutan yang lain harus dilakukan dalam lemari asam, agar gas-gas yang dikeluarkan pada saat pemanasan tidak terhirup langsung. Kedua pada saat penimbangan, Zat yang akan ditimbang harus benar-benar dingin, karena apabila tidak dingin maka akan mempengaruhi hasil penimbangan yang diperoleh. Setelah dilakukan tahap pemanasan dan penimbangan maka dilanjutkan dengan perhitungan mol Zat yang digunakan dari data yang diperoleh.

X. KESIMPULAN
Dari data percobaan hukum kelipatan perbandingan diperoleh :
 Rumus senyawa A untuk tembaga klorida = CuCL5
 Rumus senyawa B untuk tembaga klorida = CuCL3
 Rumus tembaga oksida = CuO3
Kita lihat dari banyaknya mol yang bergabung dengan jumlah 1, 3/2 yang merupakan fraksi sederhana, seperti yang diperoleh dari hukum kelipatan perbandingan yang berbunyi: “Bila 2 unsur bersenyawa membentuk lebih dari satu senyawa maka bobot-bobot unsur lain berbanding sebagai bilangan bulat sederhana “

XI. DAFTAR PUSTAKA
E.J.Slowinski, Chemical Principle in laboratory with qualitative Analysis, New York,1983.

Daya Oksidasi Relatif Halogen DAN Identifikasi Alkali Tanah-Halida

Tujuan Percobaan :

/ Menentukan kekuatan mengoksidasi dari halogen

/ Mengidentifikasi senyawa Alkali tanah - Halida

Alat yang dipakai :

/ Gelas kimia 600 ml 1 Buah

/ Pipet ukur 5 ml + 1 ml 2 + 1 Buah

/ Tabung reaksi + rak 6 + 1 Buah

/ Bola isap 1 Buah

/ Sumbat tabung 6 Buah

/ Lemari asam

/ Sarung tangan

/ Kaca mata

Bahan yang digunakan :

/ Larutan NaI 0,1M / I2 (dlm Air Iod )

/ Larutan NaBr 0,1M / Br2 (dlm Air Brom)

/ Larutan NaCl 0,1M / Cl2 (air Clor)

/ Tri Chloro Etana (TCE) / Aquadest

Dasar Teori :

Unsur-unsur halogen bersifat relatif reaktif. Unsur-unsur halogen terdiri dari astatin, brom, chlor, fluor, dan iod. Kita tidak melakukan analisa untuk astatin dan fluor, karena astatin bersifat radioaktif dan fluor terlalu reaktif. Atom-atom halogen cenderung menarik elektron dan membentuk anion X- (Cl-, Br-, dan lain-lainnya). Karena sifat tersebut halogen merupakan oksidator yaitu zat yang cenderung mengoksidasi zat lain.

Jika larutan yang berisi halogen X2 (Cl2, Br2, I2) dicampur dengan larutan yang berisi ion halida Y- (Cl­-, Br-, I-), maka dapat terjadi reaksi :

X2 (larutan) + 2Y- (larutan ) 2X- (larutan) + Y2 (larutan)

Reaksi tersebut dapat berlangsung bila X merupakan oksidator yang lebih baik dari Y. Bila Y merupakan oksidator yang lebih baik dari X, maka reaksi diatas tidak akan terjadi. Reaksi akan bersifat spontan dengan arah yang berlawanan. Dalam percobaan ini kita akan mencampurkan larutan halogen dengan larutan ion halida untuk menentukan daya oksidasi dari unsur-unsur halogen. Daya oksidasi bervariasi dari satu unsur ke unsur halogen lainnya di dalam sistem periodik. Didalam air dan khususnya didalam pelarut organik, halogen mempunyai warna yang khas. Ion-ion halida tidak berwarna didalam air dan tidak larut dalam pelarut organik. Brom didalam 1,1,1 TCE berwarna orange (coklat), sedangkan Cl2 dan I2 dalam pelarut tersebut mempunyai warna lain. Brom lebih larut dalam TCE dibandingkan dalam air, sehingga bila kita mengocok larutan air brom dengan TCE, maka brom akan pindah ke pelarut TCE dan menghasilkan warna orange. Kemudian kedalam campuran tersebut ditambahkan larutan yang berisi ion halida, misalnya Cl-, lalu dikocok dengan baik. Bila Br2 merupakan pengoksidasi yang lebih baik dari Cl2, maka brom akan mengambil elektron dari ion Cl- dan berubah menjadi Br- dengan reaksi :

Br2 (larutan) + 2Cl- (larutan) 2Br-(larutan) + Cl2 (larutan)

Bila reaksi diatas terjadi, maka warna dari lapisan TCE akan berubah, karena Br2 digunakan dan terbentuk Cl2. Warna lapisan TCE akan berubah dari coklat kewarna larutan Cl2 dalam TCE. Bila reaksi tidak berlangsung, maka warna TCE akan tetap coklat. Kita harus belajar membedakan halogen dengan ion halida, karena kedua zat ini tidak sama walaupun namanya hampir mirip.

Halogen merupakan molekul dan zat pengoksidasi serta mempunyai bau. Hanya sedikit larut dalam air dan sangat larut dalam TCE dengan warna yang berbeda. Ion halida hanya terdapat dalam bentuk larutan dalam air, tidak berwarna dan tidak berbau dan kebanyakan merupakan zat pengoksidasi. Ion halida tidak larut dalam TCE.

Prosedur kerja :

? Halogen

/ Kira-kira 2 Ml air brom dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan tambahkan TCE sebanyak 2 Ml.

/ Tutup tabung reaksi dan kocok hingga warna Brom terserap oleh TCE.

/ Ulangi percobaan diatas dengan menggunakan Air Clor dan Air Iod.

/ Catat setiap perubahan warna Br2, Cl2 dan I2 dalam air maupun dalam TCE.

? Reaksi antara Halogen dengan Ion Halida

? Untuk Air Brom

/ Sampel ditambah dengan 2 Ml TCE dalam tabung reaksi, kocok hingga warna Brom terserap. (Catat hasilnya di tabel ).

/ Ulangi percobaan ini dengan mengganti TCE dengan NaBr, NaCl dan NaI (catat perubahan warnanya masing- masing Ion)

? Untuk Air Clor

/ Sampel ditambah dengan 2 Ml TCE dalam tabung reaksi, kocok hingga warna Clor terserap. (Catat hasilnya di tabel ).

/ Ulangi percobaan ini dengan mengganti TCE dengan NaBr, NaCl dan NaI (catat perubahan warnanya masing- masing Ion)

? Untuk Air Iod

/ Sampel ditambah dengan 2 Ml TCE dalam tabung reaksi, kocok hingga warna Iod terserap. (Catat hasilnya di tabel ).

/ Ulangi percobaan ini dengan mengganti TCE dengan NaBr, NaCl dan NaI (catat perubahan warnanya masing- masing Ion)

Data pengamatan :

? Warna Halogen

Halogen

Air

1,1,1 Tri Cloro Etana

Brom

Larutan berwarna Kuning

Larutan berwarna Kuning

Clor

Larutan tidak berwarna

Larutan tidak berwarna

Iod

Larutan berwarna Ungu

Larutan berwarna Ungu

? Reaksi antara Halogen dengan Ion Halida

Halogen

TCE

Ion Brom

Ion Clor

Ion Iod

Brom

Kuning

Kuning muda

Kuning muda

Kuning muda

Clor

Bening

Bening

Bening (setelah lama Keruh)

Bening

Iod

Ungu

Ungu

Ungu

Ungu

Pembahasan :

? Warna Halogen

/ Daya oksidasi dari halogen dapat dilihat dari perubahan warna yang terjadi seperti halnya Brom dan Clor (sedangkan untuk Clor terjadi juga pemisahan antara Clor dengan TCE).

? Reaksi antara Halogen dengan Ion Halida

/ Perubahannya dapat dilihat bentuknya seperti hanya terjadi pemisahan antar larutan, dan warna yang larutan tersebut.

Kesimpulan :

/ Dari hasil percobaan urutan daya oksidasi dari halogen :

Cl > Br > I

/ Dari hasil percobaan urutan daya reduksi pada ion halida :

Cl <>

Jawaban pertanyaan :

1. A2 + 2B- 2A- + B2

Dari reaksi diatas zat yang teroksidasi adalah zat B- sedangkan zat yang tereduksi adalah zat A.

Jika larutan A dicampur dengan larutan yang berisi ion C -, ternyata tidak terjadi reaksi maka A merupakan oksidator yang lebih baik dari pada B. Sedangkan ion C oksidator yang lebih kuat dari pada ion A.

Susunan kekuatan oksidator dari yang terkuat adalah C > A > B

2. Br2 + 2 Cl- 2 Br- + Cl2

Br2 + 2 I- 2 Br- + I2

Cl2 + 2 Br- 2 Cl-- + Br2

Cl2 + 2 I- 2 Cl- + I2

I2 + 2 Br- 2 I- + Br2

I2 + 2 Cl- 2 I- + Cl2

Daftar pustaka :

/ Jhon Willey & sons, Laboratory eksperiments for chemistry and the living organisme, 3th, Molly bloomfield.

/ Emil j. Slowinsky, Wayne wolsey, William L. Masterton, Chemical principle in the laboratory with qualitatives analisis, Japan, Holt-saunders Int.ed.

/ Laborpraxis, 2 Messmethoden, Brikhaeuser.

Minggu, 15 Agustus 2010

tuhan

Tuhan membuatku mampu tersenyum kala menangis. Bertahan saat hendak menyerah. berdoa saat kehabisan kata-kata. Mengasihi walau hati hancur. Mengerti walau tak satu pun nampak memberi arti.

segala perkara dapat kutanggung di dalam dia yang memberi kekuatan kepadaku